Rabu, 09 Mei 2012

makalah Teori sastra budaya


TEORI SASTRA BUDAYA
Makalah
Untuk melengkapi tugas mata kuliah menulis
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 4
Anggota:
1.      Nina Eka Putri           NIM    : 1106102010041

2.      Nona Riskiana           NIM    : 1106102010039

3.      Rozik Maskuri           NIM    : 1106102010043





FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS SYIAH KUALA TAHUN 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada ALLAH SWT.  karena dengan limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini tepat pada waktunya.
Makalah ini berjudul Teori Sastra Budaya. Di dalamnya akan dibahas mengenai definisi-definisi teori sastra budaya,sejarah perkembangannya dan hal-hal lain mengenai tentang sastra budaya tersebut. Makalah ini ditujuankan untuk memperluas dan menambah wawasan para pembaca tentang teori sastra budaya.
Kemudian,ucapan terima kasih kepada Bu Rismawati  S.Pd dan semua pihak yang telah turut membantu dalam penyelesaian pembuatan makalah ini.
Akhirnya,penyampaian makalah ini semoga bermanfaat untuk pembaca. Dan kami juga sangat mengharapkan tanggapan serta kritik para pembaca demi kesempurnaan pembuatan makalah ke depannya.

                                                                                                           

                                                                                                                       
                                                                                                                                   









Darussalam, 23 September 2011

Penulis






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
BAGIAN 1           PENGERTIAN TEORI SASTRA BUDAYA.......................... 1
       1.1 Definisi teori sastra budaya.................................................. 1
BAGIAN 2           SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI SASTRA................ 2
                             2.1 Sejarah Pertumbuhan............................................................. 2
                             2.2 Kemunculan Sebagai Teori Sastra.......................................... 6
                             2.3 Pembinaan Teori................................................................... 7
                             2.4 Ahli Kritikus Sastra/Budaya................................................... 9
KESIMPULAN..................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 11

BAGIAN 1
PENGERTIAN TEORI SASTRA BUDAYA

1.1 Definisi Teori Sastra Budaya
                Teori sastra budaya adalah usaha pembaca untuk melihat hubungan antara teks,pengarang dan pembaca dengan sosial,politik,ekonomi,bahasa,agama dan kesenian hasil refleksi terhadap pembasaan sebuah teks sastra.
                 Menurut Niall Lucy (2000:234)  teori ini bersifat disiplin dan eklektikal yang menjadi saingan dengan bidang sastra perbandingannya itu. Graham Holderness melihat budaya yang berhubungan dengan perjuangan,ketegangan dan kontradiksi yang berlaku dalam sebuah budaya,yang konteks dengan ideologi dan kekuasaan(1991:34). Sesuai sebagai teori konteks,yang melihat hubungan sastra dan  budaya teori ini memberi kesadaran  budaya dalam membentuk kehidupan. Cultural studes have evolved a method of describing culture in action.
                Alan Sinfield(1992:9) menyatakan politik dan kekuasaan dalam teori budaya lebih kuat  dan dekat berbanding dengan teori lainnya terutama historisisme baru. Teori sastra budaya menganalisis secara analitikal dan rinci serta masuk kedalam budaya teks untuk memperlihatkan konsep politik  dan kekuasaan. Tujuan analisis teori budaya ialah mencoba memberi makna akan tanda-tanda budaya yang terdapat dalam sebuah teks sastra dan mengarah kepada aspek mengungguli kekuasaaan. Apa yang disuarakan oleh pengarangnya tentang kekuasaan tidak lain adalah  percikan budayanya.Alan Sinfied juga menyatakan  bahwa teori budaya mengkaji segala tindakan manusia memasuki dan membentuk masyarakatnya (1992:291). Teori budaya tidak secara langsung membicarakan konsep humanisme. Dalam konteks ini juga,perubahan-perubahan selalu diiringi  oleh irama zamannya atau dia sendiri yang menciptakan irama perubahan itu. Alan Sinfield menghubungkan kajiannya dengan budaya pascamoden,yang secara drastis budayanya tumbuh dan berkembang dengan cepat dan tangkas. Pascamoden adalah suatu  zaman perubahan daya dan inilah yang dihadapi oleh teori budaya (Chow,Rey.1993:125)







BAGIAN 2
SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI SASTRA

2.1 Sejarah Pertumbuhan
Dasar-dasar bisa adanya teori sastra budaya dimulai dari disiplin itu sendiri. Budaya  sebagai disiplin ilmu mempunyai sejarah panjang dan konsep yang pluralistis. Konsep atau definisi budaya mempunyai artian yang selalu berubah-rubah. Menjelang dekat 1990-an,budaya sudah dikatakan telah muncul sebagai satu bidang disiplin yang tersendiri,tidak menjadi bagian disiplin ilmu lain.
Persoalan kehidupan manusia  yang sama atau berbeda telah menaruh perhatian terutama apabila orang-orang  barat bertemu dan berhubungan dengan  dunia  luar. Dalam pertemuan itu,mereka telah melihat terdapat perlakuan yang berbeda antara yang biasa mereka lakukan dengan orang-orang yang mereka temui itu. Penemuan serta pengetahuan-pengetahuan ini dibawa balik ke barat oleh pengembara,pengembang-pengembang agama,para pedagang serta pegawai kolonial. Untuk mengemukakan persamaan atau perbedaan yang tampak dalam pola kehidupan itu,mereka telah membuat pembagian tentang budaya-budaya pada masyarakat lain yang telah mereka temui berdasarkan kelakuan (behavior) mereka. Akhirnya,kerangka penceritaan dan pemerian ini menjadi dasar kepada pernyataan terhadap budaya sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Edward B.Tylor dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1871. Edward B.Tylor telah mentakrifkan budaya sebagai “Satu keseluruhan yang kompleks mengandung pengetahuan,kepercayaan,kesenangan,akhlak,undang-undang,adat dan kebolehan serta tabiat lain yang diperoleh oleh manusia  sebagai angggota  masyarakat (Morgan G,1994). Takrifan ini sangat terkenal sehingga mempengaruhi disiplin-disiplin ilmu yang lain.
Budaya mempunyai sistem adaptif,yaitu bukan saja dilihat dalam pengertian berkisar sesama manusia tetapi juga turut diungkapkan tentang kehadiran manusia dalam lingkungannya yaitu melihat dari segi human in environment. Manusia dianggap sama seperti binatang karena manusia dilihat “terpaksa” mengikat hubungan adaptif atau penyesuaian dengan ekosistem atau sistem ekologi mereka demi menjamin kelangsungan hidup. Oleh karena itu,pada pandangan pedukung perspektif  ini,budaya ditakrifkan tidak lebih hanya satu cara yang merujuk kepada teknik–teknik yang nyata dan dengan sekelompok penduduk mengikatkan diri mereka pada sekitarnya. Pentakrifan di atas adalah berasaskan kepada perkiraan bahwa alam jadi seperti persekitaran dan unsur-unsur ideologikal memainkan peranan yang penting dalam mencorakkan kehidupan serta kemajuan sebuah kelompok manusia. Tokoh yang mempelopori gagasan budaya sebagai sistem adaptif termasuk Julian Steward,Leslie White dan Daryl  Forde. Gagasan ini kemudian dimajukan oleh Roy Pappaport,P.Vayda dan Marvin Harris (Bennett,D.1993:62-68)
Dari takrifan di atas telah dihasilkan beberapa andaian. Pertama,budaya adalah lebih kepada hanya untuk menyesuaikan manusia dengan lingkungannya. Semua aspek budaya seperti ekonomi,pola penempatan,politik,sistem kepercayaan ,sistem sosial sebagainya adalah diwujudkan untuk menetapkan keseimbangan bagi hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya. Perubahan yang berlaku disebabkan kerusakan keseimbangan yang berlaku karena ada kerusakan dari aspek persekitaran demografi ataupun dalam bidang teknologi. Jadi budaya sebagai sistem adaptif harus mengambil aspek-aspek atau teknologi sebagai aspek terpenting dalam budaya tersebut.
Hakikat ini boleh dilihat melalui tulisan White (1949) dan Harris(1974). White melihat dari sudut pertambahan penggunaan tenaga akibat dari perubahan dalam kemajuan teknologi. Ketika Harris membahas aspek ekonomi sebagai realiti utama kepada budaya. Malah pada pandangan beliau kepercayaan atau agama adalah sengaja diwujudkan untuk menyamar tujuan ekonomi tersebut. Gagasan beliau akhirnya lebih dikenal sebagai materialisme budaya (1979). Beliau mengakui bahwa gagasan yang telah dikemukannya tetap relavan hingga kini terutamanya dalam penyelidikan budaya(1994:62). Paparport(1965) telah berjaya menghasilkan kajian yang baik berdasarkan kepada konsep budaya sebagai sistem adaptif. Dalam pengkajian melalui kaidah ini,Pappaport telah mengetengahkan budaya tembaga,yaitu sekumpulan masyarakat orang asli yang hidup di pergunungan di Bishmarck di New Guinea. Uraian ini berkisar tentang upacara kaiko yang dibuat dalam kerangka konsep budaya sebagai suatu sistem adaptif.
Sungguhpun dalam takrifan budaya awal yang telah dikemukakan oleh Linton (1940),Kluckhon,Kelly (2945) dan Kroeber(1949) telah menyebut aspek mentalistik tetapi paradigmanya  dilihat dan lebih berteraskan kepada perlakuan. Setelah tahun 1950-an,mulai dilihat usaha-usaha untuk mengalih paradigma tersebut di dalam berbagai disiplin ilmu seperti dalam bidang pengajian budaya, linguistik maupun psikologi.
Dalam penelitian budaya,tokoh-tokoh seperti Geertz, Goodenough, Hall,Schneider,Wallace telah mengajukan cadangan bahwa budaya mengandungi bukan kelakuan tetapi uraian budaya berasaskan perlakuan maka apa yang dilihat ialah perlakuan itu terkait dengan keadaan luaran seperti di sekitarnya. . Sebaliknya,pandangan tehadap budaya  berasaskan minda atau idea itu memberikan penekanan kepada pancaran dalaman. Pada pandangan pendokong aliran ini,seorang penyelidik akan gagal mengungkap sebuah budaya seandainya hanya melihat kepada aspek perlakuan saja.
Dalam takrifan ini pengetahuan secara tipikal mengandung rumus-rumus yang membutuhkan seseorang membuat ketentuan seperti dimana mau tinggal,bagaimana masyarakat dijeniskan,bagaimana perbedaan harus dinyatakan, bagaimana perasaan seseorang tentangnya dan sebagainya. Pembangunan konsep budaya seperti ini selain pengaruh dari beberapa ahli teori Eropa seperti Pisaget ,Saussure  dan Levi-Sttrauss adalah didorong oleh perkembangan komputer. Budaya dilihat sebagai suatu sistem pengumpulan maklumat. Dalam hal ini Geertz telah mengemukakan takrifannya dalam bukunya the interpretation of culture(1973) seperti berikut: “Budaya ialah satu pensejarahan pemindahan pola-pola makna yang terkandung dalam lambang-lambang itu manusia berhubungan, melanjut dan membangun pengetahuan dan sikapnya terhadap  kehidupan”.
            Menurut Geertz budaya sistem makna serta lambang itu bukan saja berperan sebagai ilmu pegetahuan tetapi ia juga dikongsi bersama,ataupun di istilahkan oleh Geertz sebagai bersifat publik atau awam. Untuk menunjukan kedudukan ini,ia boleh dianalogi dengan menggunakan bahasa. Dari satu segi,bahasa adalah pengetahuan yang terletak dalam idea seorang manusia. Dibalik hakikat itu,bahasa merupakan fenomena awam serta bahasa adalah tersedia wujud sebelum anggota barunya lahir. Anggota yang baru lahir itu perlu mempelajari bahasa tersebut dan  bukan untuk disimpan tetapi digunakan dikalangan mereka. Tidak semua orang mengetahui semua perkataan dalam suatu bahasa dan tidak pula boleh menggunakannya dengan sepenuhnya. Perubahan bahasa tidak bergantung kepada individu. Sebagai alat atau lambang perhubungan dalam sebuah masyarakat,bahasa akan dapat terus kekal walaupun terdapat individu yang meninggal dalam sebuah kelompok masyarakat tersebut. (Cashmore,Ellis dan Rojek Chris,1999:184)
Budaya juga dapat  dilihat dari proses sosial,penciptaan dan penggunaan makna serta lambang sudah tentu tidak berlaku secara perseorangan. Ia berlaku di dalam proses sosial,yaitu proses perhubungan di kalangan sesama anggota masyarakat berkenaan. Contoh pembinaan makna dan lambang yang dikongsi ini dengan menggunakan ilustrasi anjing dan sebatang kayu. Antara tuan dengan anjing tersebut tercipta perkongsian makna dan lambang,yaitu apabila tuan melemparkan batang kayu berkenaan,anjing itu akan mengejar dan membawanya semula kepadanya.
Belakangan ini,budaya hanya dianggap sebagai sebuah persembahan atau maksud artifak. Budaya dipersembahkan sebagai suatu proses sosial dengan setiap anggota masyarakatnya bertindak mengikuti tafsiran sendiri terhadap sistem makna dan lambang yang ada penyelidikan budaya dalam konteks proses sosial juga dianggap sebagai mentafsir yaitu penyelidik mentafsir atau menginterpretasi budaya(lambang dan makna) masyarakat yang diterkaitnya itu. Walaupun lebih berupa interpretasi tetapi penyelidikan budaya dalam konteks ini perlu dibentuk dalam konteksya dan mempunyai latar  belakang uraian yang lengkap. Biasanya penyelidikan dalam konteks ini cenderung untuk mentafsir makna dan lambang di dalam kehidupan sebuah masyarakat itu mengikuti pandangan natif atau tempatan karena itu juga akhir-akhir ini penyelidikan budaya telah mengubah tumpuannya dari mengatasi aktivis sosial kepada keterangan berupa kategori, metafora, retorik,mimpi,cerita dan sebagainya.
Kebanyakan penyelidikan yang mengambil lambang dan makna akan mentafsirkan berdasarkan kepada kerangka teori Marxisme yang digunakan secara longgar  seperti kelas sosial,kapitalisme dan sistem ekonomi dunia. Mereka berpendapat bahwa lambang dan makna itu lebih baik dilihat dalam  konteksnya berbanding dengan penerangan sistematik begitu saja dan pembinaannya terkait erat dengan kepentingan ekonomi dan politik. Oleh karena itu,lambang  dan makna yang dianggap wujud di dalam proses sosial itu senantiasa saja memperlihatkan pertelingkahan tentang (atas) lambang dan makna itu. Penyelidikan yang telah dikemukakan oleh James  Scott di atas adalah dalam pendekatan tersebut. Beliau telah meneliti ke atas unsur-unsur budaya seperti umpat-mengumpat,mencaci nama dan cerita-cerita lisan bagi melihat pertentangan penduduk (petani) miskin ke atas orang kaya di kampung mereka. Kesemua itu bukanlah hanya merupakan “Senjata-senjata” kecil mereka untuk mencabar penguasaan dan penindasan yang dilakukukan oleh kelas atasan terhadap mereka. Senjata kecil di atas dikategorikan sebagai ideologi.
Kemunculan disiplin pengkajian budaya telah membawa jalur lain dalam pentakrifan budaya. Pengkajian budaya menggunakan konsep budaya dalam pengertian yang menjurus dan sempit yaitu:  “Pencapaian kahalusan  artistik dan estetik yang tertinggi dalam sebuah masyarakat  yang  kompleks”. Pengertian itu adalah pengertian awal budaya yaitu sebagai seni tinggi. Kemunculan disiplin pengkajian budaya juga serta takrifan budaya yang dipakainya adalah dipengaruhi oleh teori kritik sastra dan seni pascamoden dan juga perspektif feminisme.
Pokok pembahasan budaya dalam kerangka  konsep ini ialah tentang  aspek bentuk,simbolis dan makna,proses pengeluarannya,hegemoni,kuasa serta pengetahuan. Di dalam konsep budaya secara antropologikal,telah mengenepikan aspek-aspek di atas di dalam penelitian mereka. Umpamanya,seorang penyelidik budaya yang telah membuat kerja lapangan di New Guinea,ia hanya tertegun kepada kepurbaan  arah hidup mereka. Akibatnnya,beberapa dimensi budaya yang lain seperti kedudukan persejarahan dan pengeluaran   kuasa hagemoni makna budaya dilupakan begitu saja. Para penyokong feminis dan pos-Marxis menegaskan ,penyelidikan budaya dalam pengkajian budaya lebih tertarik kepada persoalan hagemoni dan dominasi yang tersembunyi di balik bentuk-bentuk budaya yang dikategorikan  sebagai seni tinggi.

2.2 Kemunculan Sebagai Teori Sastra
Historisme baru dibina oleh golongan new historian dengan slogannya back to the history,tokohnya yang  paling terkenal ialah Stephen J. Greenblatt,yang pada peringkat awalnya menamakannya dengan cultural poetics atau puitika budaya. Dapat ditegaskan bahwa teori sastra budaya  berasal dari pada pemikiran  sastra dan metode kritikan yang  digunakan oleh Richard Hoggart  dan Raymond Williams,yang kedua-duanya berasal dari tradisi kritikan marxisme british.
Richard Hoggat (1918-)adalah profesor bidang pendidikan yang banyak berkhidmat di universitas  di England. Pengkhususan kajian ialah dalam kulturalisme,kritikan praktikal dan demokrasi sosial .
Teori budaya yang menjelma menjadi teori sastra itu berasal dan berakar daripada pemikiran-pemikiran pasca perang dunia kedua,akhir kurun kedua ke arah pembentukan budaya baru termasuk konsep modenisme, indutrialisasi, purbanisasi,teknologi dan komunikasi massa.
Dalam kajian Raymond William,pemikiran dan analisis berasaskan bacaannya kepada teks-teks  romantitisme. Teks-teks romantitis memiliki unsur-unsur kemanusiaan yang mendalam dan semangat revolusioner.
Pada 1970-an,cultural studies dimasuki oleh pemikiran dan konsep yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci yaitu tentang hagemoni: term denoting invisible relations of cultural or intellectual domination. Roger Webster(1990:63) menyataan bahwa teori studi budaya sangat terhutang budi dengan konsep hagemoni melalui pemikiran Gramsci. Konsep hegemoni mempunyai hubungan dengan ideologi,kuasa dan pengaruh.
Dalam buku Louis Althusser ideology dan ideological state apparatuses 1971 menjelaskan sebuah  upaya yang maju tidak saja sebagai pengeluar material juga pengeluar  misyen-misyen dan seluruh tenaga daripada berbagai sudut sosial dan budaya mesti menyokong ke arah pengeluaran misyen–misyen tersebut.
Dapat dibuktikan teori studi budaya,sebenarrnya sudah mempunyai sejarahnya yang panjang. Pada tahun 1990-an ,ia mengikhtiarkan dirinya sebagai sebuah teori sastra yang mandiri. Suatu aspek yang perlu ditegaskan bahwa teori studi budaya erat kaitannya dengan perkembangan pendidikan,justru ia menjadi ciri terpenting dalam konsep budaya. Seandainya historisme baru dekat dengan sejarah ,psikoanalisis dengan psikologi atau marxisme dengan masyarakat,maka teori  budaya dekat dengan dunia pendidikan.(Womack,Kenneth,(1999:596- 597).
Bloom merupakan seorang profesor yang terkenal pada masa itu yang juga terlibat di dalam The Committee On Social Thought dan turut mengajar di kolej university of Chicago telah mengkritik mengenai keadaan kemanusiaan pada masa itu yang dikatakan sudah ketinggalan zaman,zaman seperti atlantis yang telah tenggelam. (Wolfrey,Juniem,1999:596)
Sebagai tambahan,Bloom juga telah mengkritik motif-motif  lural oleh para penyokong penggubalan kanun. Bloom juga mendukung mengenai penemuaan-penemuan kesusastraan yang terkenal yang datang dari barat dan  juga pemusatan budaya,karena mereka menembusi membaca-membaca muda.
Sejak tahun 1990-an hingga ke penghujungnya dan seterusnya memasuki abad ke-21,kritikan teori sastra budaya terus berkembang dalam cara-cara yang kentara dengan penuh tanda tanya. Perkembangan teknologi dan komunikasi yang tidak terdapat pada era abad ke-21 ini, pengkajian budaya semakin dipelbagaikan dan bidang kajiannya semakin terbuka luas.

2.3 Pembinaan Teori
Kejayaan teori ini berpisah dengan new  historisme karena keengganannya masuk ke dunia sejarah telah membolehkannya membina tradisi kritikan yang tersendiri (Hawthorn,Jeremy,1996:5). Teori ini telah membuktikan bahwa ia tidak ada kesesuaiannya dengan pemikiran konsep wacana yang menghubungkan dengan sejarah yang dibawakan oleh Faucalt Hawthorn,Jeremy,1996:33). The achievements of cultural studies is allowing stuents of literature arises and gives access to. (Hawthorn, Jeremy,1996:228)
Tiga orang tokoh sering dikaitkan dengan pembinaan teori  budaya ini mereka ialah J.Hillis Miller,Ian Chambers dan Alan Sinfield. Menurut pendapat Miller,manusia kini  adalah pelanggan budaya dan dunia global terkini menyediakan berbagai warna dan persilanngan budaya,maka kita haruslah pandai memilih yang sesuai dengan diri dan masyarakat kita,jika tidak budaya manusia aka menuju kehancuran, cultural has a new meaning now. (1999:606-610)
Dewasa ini,masayarakat bergerak ke budaya hybrid,suatu proses intertekstual berbagai budaya dan membentuk budaya hasil persilangan atau perkawinan antara budaya yang berbeda. Budaya hibrida yang dikemukakan oleh Homi Bhabha memiliki dasar budaya asal tetapi akibat daripada persilangan budaya lain ialah tidak lagi membawa seaslinya.(Yasraf  Amir Piliang, 1998:172). Sapardo Djoko Damono,mengatakan bahwa sastra Indonesia mencapai kemajuannya karena ia bersifat hibrida,hasil persilangan dengan sastra daerah dan sastra Eropa.
Yang paling relevan  di sini ialah bahasa dalam pascastrukturalisme kajian tentang budaya sebagai sistem tanda dengan itu makna budaya dapat dipahami melalui tanda-tanda. Pada akhirnya kita semua terjebak dalam bahasa dan kita memperoleh budaya melalui bahasa kita adalah makluk yang berbicara . Untuk memahami budaya,kita mesti mengerti struktur yang berfungsi di dalamnya dan pola dasar yang membentuknya(Osborne,Richard dan Van Loon,Borin, (1998:115). Hubungan teori sastra budaya dengan pascastrukturalisme,diakui oleh Jeremy Howthon (1994:133-134),tidak saja secara teorikal juga falsafah dan praktisnya. Ini menunjukan bahwa kaidah  operasi teori budaya ialah dipengaruhi atau menggunakan mekanisme semiotic dan intertekstualiti.
Singkatnya,karena budaya ini mencampurkan segala disiplin dari dekonstruksi dan pascamodenisme ke kajian gender dan  kritikan envilomental. Ia adalah teori yang paling sesuai menangani isu globalisasi terkini.

Proses terbentuknya teori budaya menjadi teori sastra:
§  Sejarahnya bermula dengan epistemologi budaya, yang konsepnya dan pendekatan-pendekatannya mengenal susunan kehidupan dan mempunyai kaitan budaya sebagai tata hidup,yang bukan hubungannya tamadun dan kuasa. Ia bersifat kompleks,pluralistik juga relativisme.
§  Munculnya fahaman cultural materialisme yang sejalan dan bersahabat dengan historisme.
§  Berpecah daripada historisisme baru dan mengikhtiarkan sebagai studi budaya.

Beberapa dasar kaidah analisis teks ialah:
§  Mengkaji bagaimana wacana budaya beroperasi dalam mengungguli ideologi kekuasaannya.
§  Mengkaji indvidu dalam pembentukan individualiti dalam gerakan budayanya yang dihubungkan dengan pembentukan sosial yang mengarah pada konsep kehebatannnya.
§  Meneliti pergolakan pembudayaan,terutamanya,dalam aspek pendidikan, ekonomi,sosial dan sebagainya.
§  Meneliti kekayaan,pelestarian dan pertanda  artifak.
§  Menganalis realiti struktur ideologi budaya pascamoden dan pascakolonial termasuklah konsep hibridisme.
Dalam menggunakan paradigma kritikan teori studi budaya,beberapa pendekatan yang sesuai boleh diaplikasikan seperti meneliti aspek latar budaya teks atau citra budayanya, meneliti perjuangan-perjuangan individu atau masyarakat,menganalisis kekuasaan budaya terutamanya aspek politik dan pengaruhnya dalam  kehidu[pan sambil memberi penekanan kepada sudut artifak daripada sudut nilai dan perubahan yang dihadapinya.




- Freud ala surealis                   :sastra budaya
- Ajo Derrida                           :dekonstruksi
- Kate Millett                            : Feminis!

- Ferdinand de Saussure           :strukturalisme
- Carl Marx                              : marxisme
- Julia Kristeva             : StrukturalismePsikoanalisis! Feminisme,.
- Edward                                  : Kolonialisasi tidak berhenti ketika penjajah pergi meninggalkan negara jajahannya.
- Theodor Adorno                    :Industri Budaya.
 - Antonio Gramsci                   : hegemoni!.
- Carl Jung                               :Seorang ahli psikologi ternama.

- Noam Chomsky                     :,sintaksis mentalis yang berlawanan konsep dengan bloom,mekkhanis,yang 'intelektual paling hebat'.
- Bukan manusia yang membuat bahasa. Malah sebaliknya. hipotesis hebat Sapir dan Whorf yang mengantisipasi teori-teori post-structuralism.
- Elaine Showalter                    : menatap bahagia masa depan feminisme.
- Roland Barthes                      : Kritikus sastra dan budaya.
- Raymond Williams                 : Cultural Studies!
- Michel Foucault                     :. Pemikir dan pembicara yang hebat.
- Simone De Beauvoir              :. Bertanggung jawab untuk 'masterpiece' feminisme berjudul 'The Second Sex'.
- Joseph Campbell                    : punya banyak cerita 'mitos' yang dia bisa bagi.
- Berandalan kritik sastra no. 1: Terry Eagleton sang revolusioner!

- Helene Cixous                        :yang percaya akan kesubversifan 'tubuh'.
- Georg Lukacs                        : yang percaya akan kekuatan transformatif sastra realis.

- Fredric Jameson                     :, pengungkap sisi tak-sadar teks budaya.















KESIMPULAN
Teori studi budaya telah membuka kepada satu kajian budaya yang lebih mendalam menyeluruh dan sistematik terhadap teks-teks sastra. Sebetulnya kajian budaya dalam bidang sastra sudah berlaku sejak awal lagi. Namun, sebelum ini kajian sastra mengenai usur-ubsur budaya hanya dilakukan dalam aspek-aspek tertentu saja. Dengan kemunculan zaman pascamoden aspek budaya telah menguasai seluruh kehidupan manusia dan banyak karya-karya sastra yang menyentuh tentang budaya.Akibat daripada ini,para pemikir sastra berpendapat bahwa perlunya menunjukkan teori sastra yang berorientasikan budaya.Kajian budaya mempunyai hubungan dengan budaya global,pascamodenisme, pasca industrialisme dan ekstasi ekonolobido yang sejalan dengan perkembangan teknologi  maklumat dan komukkasi massa.teori studi budaya mengaji teks-telks sastra  daripada sudut budaya dan hubungannya dengan budaya material (cultural materialis). Ia juga meneliti tentang budaya sosial dan kekuasaan serta kesan-kesannya kepada manusia seluruhnya. Sesungguhnya teori studi budaya, sesuai dengan definisi konsep budaya yang mencakup keseluruhan hidup itu ,ia amat luas,elektikal,dan inter disiplin. Teori ini mengingikan sebuah budaya yang bergerak,bertamadun,dan sesuai dengan harga dan nilai manusia itu sendri.teori ini sangat menyanjung teks-teks yang menggambarkan perjuangan individu atau masyarakat dalam membina tamadun yang sempurna.Tamadun yang sempurna hanya datangnya daripada budaya Islam.


















DAFTAR PUSTAKA


Sikana,Mana. 2008. Teori Sastra Kontemporari. Bandar Baru Bangi : Terbitan

            Pustaka Karya


Ahli Teori dan Kritikus Sastra Budaya.( www.google.com )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar